Laman

12 Jul 2011


APA SALAHNYA SUKA METAL??
“helloooow tha, sadar nggak sih lo kalo artis favorit lo itu bakal bikin rating kita jatuh di kampus ? Apa nggak ada band lain yang bisa lo jadiin referensi ?“

Renata kembali mengingat kata – kata Alika, sahabatnya, tempo hari di kampus. Nata dan Alika sempat bersitegang karena tugas mata kuliah jurnalistik akhir semester ini. Mereka harus membuat sebuah artikel mengenai “Demam musik melayu di kalangan anak – anak muda Indonesia”. Sebenarnya semua itu tidak akan jadi masalah jika Renata yang biasa disapa Nata ini bukan cewek populer di kampusnya. Dan juga jika saja Alika tidak sekelompok dengan Nata pastilah tugas ini akan jauh lebih mudah dikerjakan karena tak ada pertentangan prinsip. Walaupun ini hanya sebuah tugas kampus namun bagi Alika ini mampu menjadi aib yang mampu membawa namanya masuk ke deretan cewek – cewek yang amat sangat biasa di kampusnya. Dan Alika takkan pernah rela jika itu sampai terjadi.
Hampir dua minggu tugas dari dosen jurnalistik belum juga dikerjakan oleh Alika maupun Renata. Entah sampai kapan ini akan terus berlarut – larut.

Malam itu Nata memberanikan diri untuk mengajak Alika bertemu guna membahas tugas mereka. Nata menghubungi telepon genggam Alika, memastikan bahwa Lika memang benar – benar ada di rumah. Cukup lama nada sambung itu terus terdengar di telinga Nata sampai akhirnya Alika pun mengangkat teleponnya. “kenapa Tha?” Alika menyapa dengan nada datar tak bersemangat. “bisa ketemu nggak lik? Gue mau bahas tugas jurnalis nih, tau donk lo kalo ini udah deadline?” balas Nata. Cukup lama Alika terdiam namun akhirnya,”ok, mau ketemu dimana?” “di kafe biasa aja deh. Jam tujuh yah lik. Jangan telat loh biar waktunya bisa lebih lama. Tanpa berfikir lama Alika menjawab, “ok Tha, see you..” “klik!!” sambungan telepon diputus.

Malam itu Renata mengenakan hot pants berwarna abu – abu dengan t-shirt yang sewarna. Menyandang sebuah tas hitam merk ternama. Flat shoes berwarna putih cukup membuat penampilannya semakin menarik. Melangkah penuh percaya diri menuju ke meja yang sudah dari tadi sore pesannya. Namun nampaknya meja itu masih kosong, Alika belum menampakkan batang hidungnya. Renata memutuskan tidak menghubungi Alika untuk menanyakan keberadaannya. Renata memilih untuk duduk tenang di kursinya, memasang headset sambil mendengarkan beberapa buah lagu dari band favoritnya, ST12 dari Ipod yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Seorang waitress berwajah manis menyodorkan drink list, Nata hanya memesan strawberry Juice seraya berkata,”makanannya menyusul ya mbak, aku masih tunggu teman.
Sebenarnya malam itu kafe ini sedang menampilkan homeband-nya yang menawarkan musik – musik all around. Namun Nata jenuh. Hampir 90% home band di beberapa kafe di Jakarta selalu membawakan musik all around. Mungkin karena keliahatan jauh lebih intelek atau karena tamu yang datang juga adalah para pelancong mancanegara. Dianggapnya mereka hanya menyukai musik beraliran seperti itu. Apa tak pernah dibayangkan jika para tamu pun jenuh mendengar musik dari negara asli mereka. Tak ada pembaharuan. Jenuh pastinya jika cuma ada musik – musik seperti di dalam kafe.

Nata masih asik dengan pikiran – pikiran kritisnya, namun tak ia sadari bahwa Alika sudah ada di hadapannya sambil memandang wajah Nata dengan mata tatapan kebingungan. “woi Tha, kenapa jadi bengong sih lo?” Alika menyapa. Lebih tepatnya mengagetkan Nata hingga semua pikiran dalam pikiran Nata buyar. “ngaggetin aja sih lo? Kenapa baru nyampe?” cibir Nata. “sorry Nata sayang, traffic jam, tau donk Jakarta? jam segini kan orang masih pada hilir mudik pulang kantor. Lagian salah sendiri ngajak ketemuan kok jam segini. Kalau mau nggak macet ya nanti aja jam 12an kita janjiannya!” jawab Lika bercanda sambil menarik gelas Nata yang dari tadi belum juga diminum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

12 Jul 2011


APA SALAHNYA SUKA METAL??
“helloooow tha, sadar nggak sih lo kalo artis favorit lo itu bakal bikin rating kita jatuh di kampus ? Apa nggak ada band lain yang bisa lo jadiin referensi ?“

Renata kembali mengingat kata – kata Alika, sahabatnya, tempo hari di kampus. Nata dan Alika sempat bersitegang karena tugas mata kuliah jurnalistik akhir semester ini. Mereka harus membuat sebuah artikel mengenai “Demam musik melayu di kalangan anak – anak muda Indonesia”. Sebenarnya semua itu tidak akan jadi masalah jika Renata yang biasa disapa Nata ini bukan cewek populer di kampusnya. Dan juga jika saja Alika tidak sekelompok dengan Nata pastilah tugas ini akan jauh lebih mudah dikerjakan karena tak ada pertentangan prinsip. Walaupun ini hanya sebuah tugas kampus namun bagi Alika ini mampu menjadi aib yang mampu membawa namanya masuk ke deretan cewek – cewek yang amat sangat biasa di kampusnya. Dan Alika takkan pernah rela jika itu sampai terjadi.
Hampir dua minggu tugas dari dosen jurnalistik belum juga dikerjakan oleh Alika maupun Renata. Entah sampai kapan ini akan terus berlarut – larut.

Malam itu Nata memberanikan diri untuk mengajak Alika bertemu guna membahas tugas mereka. Nata menghubungi telepon genggam Alika, memastikan bahwa Lika memang benar – benar ada di rumah. Cukup lama nada sambung itu terus terdengar di telinga Nata sampai akhirnya Alika pun mengangkat teleponnya. “kenapa Tha?” Alika menyapa dengan nada datar tak bersemangat. “bisa ketemu nggak lik? Gue mau bahas tugas jurnalis nih, tau donk lo kalo ini udah deadline?” balas Nata. Cukup lama Alika terdiam namun akhirnya,”ok, mau ketemu dimana?” “di kafe biasa aja deh. Jam tujuh yah lik. Jangan telat loh biar waktunya bisa lebih lama. Tanpa berfikir lama Alika menjawab, “ok Tha, see you..” “klik!!” sambungan telepon diputus.

Malam itu Renata mengenakan hot pants berwarna abu – abu dengan t-shirt yang sewarna. Menyandang sebuah tas hitam merk ternama. Flat shoes berwarna putih cukup membuat penampilannya semakin menarik. Melangkah penuh percaya diri menuju ke meja yang sudah dari tadi sore pesannya. Namun nampaknya meja itu masih kosong, Alika belum menampakkan batang hidungnya. Renata memutuskan tidak menghubungi Alika untuk menanyakan keberadaannya. Renata memilih untuk duduk tenang di kursinya, memasang headset sambil mendengarkan beberapa buah lagu dari band favoritnya, ST12 dari Ipod yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Seorang waitress berwajah manis menyodorkan drink list, Nata hanya memesan strawberry Juice seraya berkata,”makanannya menyusul ya mbak, aku masih tunggu teman.
Sebenarnya malam itu kafe ini sedang menampilkan homeband-nya yang menawarkan musik – musik all around. Namun Nata jenuh. Hampir 90% home band di beberapa kafe di Jakarta selalu membawakan musik all around. Mungkin karena keliahatan jauh lebih intelek atau karena tamu yang datang juga adalah para pelancong mancanegara. Dianggapnya mereka hanya menyukai musik beraliran seperti itu. Apa tak pernah dibayangkan jika para tamu pun jenuh mendengar musik dari negara asli mereka. Tak ada pembaharuan. Jenuh pastinya jika cuma ada musik – musik seperti di dalam kafe.

Nata masih asik dengan pikiran – pikiran kritisnya, namun tak ia sadari bahwa Alika sudah ada di hadapannya sambil memandang wajah Nata dengan mata tatapan kebingungan. “woi Tha, kenapa jadi bengong sih lo?” Alika menyapa. Lebih tepatnya mengagetkan Nata hingga semua pikiran dalam pikiran Nata buyar. “ngaggetin aja sih lo? Kenapa baru nyampe?” cibir Nata. “sorry Nata sayang, traffic jam, tau donk Jakarta? jam segini kan orang masih pada hilir mudik pulang kantor. Lagian salah sendiri ngajak ketemuan kok jam segini. Kalau mau nggak macet ya nanti aja jam 12an kita janjiannya!” jawab Lika bercanda sambil menarik gelas Nata yang dari tadi belum juga diminum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

buku ceritaku Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by faris vio Templates Image by vio's Notez