Laman

11 Jul 2011

antara saya, kopi, dan dia

Jepretan blitz dari kamera LSR itu masih terus tertanam dalam memoriku. Kulit hitam eksotis miliknya masih sangat mampu membuatku jatuh cinta. 
kami berkenalan beberapa tahun lalu saat sebuah event seminar mempertemukan kami. aku memang menyukai pria dengan style nyentrik seperti apa yang ada padanya. pierching di kedua telinganya semakin membuatku ingin lebih mendalami kepribadiannya. aku panggil dia Adi, tidak tua namun matang pola pikirnya. seperti merasakan sensasi berbeda setiap berdekatan dengannya. ada energi yang membuatku semangat untuk selalu belajar untuk mengerti apa maunya.

Kala itu, sore pertama yang kami lalui di sebuah hotel di daerah Lembang, Bandung. Gathering sebuah perusahaan menyewa jasa EO tempat kami menjadi freelancer. ini kali kedua aku bertemu Adi. namun pada saat pertemuan pertama aku belum berani berkenalan dengannya. ada rasa segan bergelayut dalam bathin ini. namun sepertinya keberuntungan berpihak padaku untuk bisa bertemu lagi dengannya. walau hanya untuk berkenalan. Adi menjabat sebagai seorang fotografer. sudah lama ia berkecimpung dengan bidang fotografi. cara ia membidik kamera amat sangat membuatku terpesona. gayanya cuek seakan ia tak peduli sekelilingnya. ia terus memperhatikan dan mengamati objek yang akan ditangkapnya. sorot matanya tajam, cukup membuatku panas dingin dibuatnya.

sore itu kami semua cukup sibuk, namun aku yang sepertinya jauh lebih sibuk dibanding rekan - rekan yang lain. aku sibuk mengerjakan tugasku dan sibuk melayangkan pandanganku pada pria eksotis itu. aku tak sabar menanti waktu break untuk para tamu agar aku bisa lebih leluasa memperhatikan setiap langkah kakinya.
waktu yang kunantikan akhirnya datang juga. semua peserta gathering dipersilahkan kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sejenak atau sekedar mandi untuk pelaksanaan acara malam nanti.
aku, adi, dan rekan lainnya menikmati waktu santai kami. ada beberapa yang asik berbincang, ada pula yang menikmati snack yang sudah tersedia. Adi sedang berbincang dengan Bang Rinto sang kameramen sambil sesekali me'recheck hasil jepretannya tadi. Otakku berputar, apa yang bisa aku lakukan untuk memanfaatkan kesempatan emas ini untuk bisa ngobrol banyak dengannya. mataku memandang ke seluruh sisi ruangan ini. dan aku menemukan ide cemerlang disana. "KOPI", ya aku akan membuatkan 2 cangkir kopi panas untuk Adi dan bang Rinto yang semakin asik mengobrol. "haloow, mau kopi??", sapaku pada mereka berdua. Awalnya mereka terkejut namun akhirnya mereka melemparkan senyum sembari menganggukan kepala. "ok, 2 hot coffee ya? manis nggak??", kulanjutkan tanyaku sambil menyiapkan 2 cangkir hot coffee untuk mereka. "aku nggak pake gula ya", suara berat itu  mengejutkanku, jantung ini seperti sedang berada dalam sebuah club dan menenggak beberapa pil anjing gila. ya itu suara adi. baru ini ia bicara padaku. aku tak menjawab, hanya menoleh sembari mengumbar senyum yang menurutku paling manis.
kuantarkan kopi - kopi itu pada mereka. "aduuuhhh ajeng baik banget sih?", adi membuatku tersenyum malu. "udah lama mas, baru tahu ya?", aku mengajaknya bercanda. dan kemudian kami bertiga sudah mulai terlihat akrab,,,

to be continue,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

11 Jul 2011

antara saya, kopi, dan dia

Jepretan blitz dari kamera LSR itu masih terus tertanam dalam memoriku. Kulit hitam eksotis miliknya masih sangat mampu membuatku jatuh cinta. 
kami berkenalan beberapa tahun lalu saat sebuah event seminar mempertemukan kami. aku memang menyukai pria dengan style nyentrik seperti apa yang ada padanya. pierching di kedua telinganya semakin membuatku ingin lebih mendalami kepribadiannya. aku panggil dia Adi, tidak tua namun matang pola pikirnya. seperti merasakan sensasi berbeda setiap berdekatan dengannya. ada energi yang membuatku semangat untuk selalu belajar untuk mengerti apa maunya.

Kala itu, sore pertama yang kami lalui di sebuah hotel di daerah Lembang, Bandung. Gathering sebuah perusahaan menyewa jasa EO tempat kami menjadi freelancer. ini kali kedua aku bertemu Adi. namun pada saat pertemuan pertama aku belum berani berkenalan dengannya. ada rasa segan bergelayut dalam bathin ini. namun sepertinya keberuntungan berpihak padaku untuk bisa bertemu lagi dengannya. walau hanya untuk berkenalan. Adi menjabat sebagai seorang fotografer. sudah lama ia berkecimpung dengan bidang fotografi. cara ia membidik kamera amat sangat membuatku terpesona. gayanya cuek seakan ia tak peduli sekelilingnya. ia terus memperhatikan dan mengamati objek yang akan ditangkapnya. sorot matanya tajam, cukup membuatku panas dingin dibuatnya.

sore itu kami semua cukup sibuk, namun aku yang sepertinya jauh lebih sibuk dibanding rekan - rekan yang lain. aku sibuk mengerjakan tugasku dan sibuk melayangkan pandanganku pada pria eksotis itu. aku tak sabar menanti waktu break untuk para tamu agar aku bisa lebih leluasa memperhatikan setiap langkah kakinya.
waktu yang kunantikan akhirnya datang juga. semua peserta gathering dipersilahkan kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sejenak atau sekedar mandi untuk pelaksanaan acara malam nanti.
aku, adi, dan rekan lainnya menikmati waktu santai kami. ada beberapa yang asik berbincang, ada pula yang menikmati snack yang sudah tersedia. Adi sedang berbincang dengan Bang Rinto sang kameramen sambil sesekali me'recheck hasil jepretannya tadi. Otakku berputar, apa yang bisa aku lakukan untuk memanfaatkan kesempatan emas ini untuk bisa ngobrol banyak dengannya. mataku memandang ke seluruh sisi ruangan ini. dan aku menemukan ide cemerlang disana. "KOPI", ya aku akan membuatkan 2 cangkir kopi panas untuk Adi dan bang Rinto yang semakin asik mengobrol. "haloow, mau kopi??", sapaku pada mereka berdua. Awalnya mereka terkejut namun akhirnya mereka melemparkan senyum sembari menganggukan kepala. "ok, 2 hot coffee ya? manis nggak??", kulanjutkan tanyaku sambil menyiapkan 2 cangkir hot coffee untuk mereka. "aku nggak pake gula ya", suara berat itu  mengejutkanku, jantung ini seperti sedang berada dalam sebuah club dan menenggak beberapa pil anjing gila. ya itu suara adi. baru ini ia bicara padaku. aku tak menjawab, hanya menoleh sembari mengumbar senyum yang menurutku paling manis.
kuantarkan kopi - kopi itu pada mereka. "aduuuhhh ajeng baik banget sih?", adi membuatku tersenyum malu. "udah lama mas, baru tahu ya?", aku mengajaknya bercanda. dan kemudian kami bertiga sudah mulai terlihat akrab,,,

to be continue,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

buku ceritaku Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by faris vio Templates Image by vio's Notez